About these ads

Teori Populasi Malthus

Dalam sebuah bukunya yang berjudul Essay on the Principle of Population, 1798, Thomas Malthus merumuskan sebuah konsep tentang pertambahan hasil yang semakin berkurang (diminishing return). Lebih lanjut Malthus melukiskan suatu kecenderungan universal bahwasannya jumlah populasi pada suatu negara akan meningkat sangat cepat pada deret ukur atau tingkat geometrik setiap 30 atau 40 tahun, kecuali hal itu diredam oleh bencana kelaparaan.

Pada waktu yang bersamaan, karena adanya proses pertambahan hasil yang semakin berkurang dari suatu faktor produksi yang jumlahnya tetap maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau tingkat aritmatik. Bahkan karena lahan yang dimiliki anggota masyarakat semakin lama semakin sempit, maka kontribusi marjinalnya terhadap total produksi pangan akan semakin menurun. Oleh karena pertumbuhan pengadaan pangan tidak dapat berpacu secara memadai atau mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk, maka pendapatan perkapita cenderung mengalami penurunan sampai sedemikian rendahnya sehingga segenap populasi harus bertahan pada kondisi sedikit diatas subsisten (semua penghasilan hanya cukup untuk bertahan sementara), itu pun hanya sampai jumlah populasi tertentu. Lebih dari jumlah itu maka akan ada penduduk yang tidak mendapatkan makan sama sekali. 

Gambar  Model Jebakan Popolasi Malthus

 

Selanjutnya Malthus mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi masalah rendahnya taraf hidup yang kronis atau kemiskinan absolute adalah “penanaman  kesadaran moral” di kalangan segenap penduduk dan kesediaan untuk membatasi jumlah kelahiran. Dengan perumusan konsep akan pentingnya pembatasan jumlah kelahiran dan jumlah pendudukitu, Malthus dapat kita pandang sebagai pelopor gerakan modern pengendalian kelahiran.

Para ahli modern telah memberi nama khusus bagi gagasan Malthus yang menyatakan bahwa ledakan penduduk akan menimbulkan pola hidup yang serba pas-pasan (subsisten). Mereka menyebutnya model jebakan populasi ekuilibrium tingkat rendah (low-level equilibrium population trap), atau biasa disebut jebakan populasi Malthus. Adapun model dasar yang merangkum gagasan Malthus dalam bentuk diagram dapat diperoleh dengan membandingkan bentuk dan posisi kurva masing-masing yang mewakili laju pertambahan penduduk dan pertumbuhan tingkat pendapatan agregat, dan kedua kurva ini dihubungkan dengan tingkat-tingkat pendapatan perkapita.

Aspek berikutnya dari teori Malthus mencoba menjelaskan hubungan antara tingkat pertumbuhan pendapatan agregat (pada saat laju pertumbuhan penduduk sama dengan nol) dan tingkat pendapatan perkapita. Jika pendapatan agregat dari suatu negara meningkat lebih cepat, maka secara definitif pendapatan perkapita juga meningkat. Seandainya pertumbuhan penduduk melampaui peningkatan total pendapatan, maka dengan sendirinya tingkat pendapatan perkapita akan menurun . logika ekonomi yang melandasi hubungan positif tersebut adanya asumsi bahwa tingkat tabungan mempunyai hubungan linier (positif) pula dengan pendapatan per kapita. Artinya, negara-negara yang mempunyai pendapatan per kapita lebih tinggi dianggap lebih mampu memupuk labih banyak tabungan sehingga tabungan nasionalnya lebih tinggi. Akan tetapi setelah melewati tingkat oendapatan per kapita tertentu kurva tingkat pertumbuhan pendapatan akan mulai mendatar dan akhirnya menurun karena semakin banyak modal investasi dan tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak untuk menggarap tanah dan sumber-sumber daya alam yang jumlahnya tetap. Disinilah prinsip diminishing returns yang terkandung dalam model Malthus (dimana kemajuan tehnologi tidak diperhitungkan), oleh karena itu, kurva pertumbuhan agregat secara konseptual sesungguhnya sama dengan kurva produk total di dalam teori-teori dasar mengenai produksi.

Menurut pendukung aliran pemikiran neo-Malthus, bangsa-bangsa yang miskin tidak akan pernah berhasil mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dari subsisten, kecuali jika mereka mengadakan pemeriksaan pengendalian preventif terhadap pertumbuahan populasi mereka, atau dengan menerapkan pengendalian kelahiran. Apabila hal tersebut tidak dilaksanakan secepatnya, maka pemeriksaan positif ala Malthus, yakni musibah kelaparan, wabah penyakit, perang, bencana alam yang akan tampil sebagai faktor utama penghambat pertumbuhan penduduk.


Sumber :  Todaro, Michael P. “Pembangunan Ekonomi”. Edisi Keenam

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Terimakasih Informasinya pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 369 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: