About these ads

4 Penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998, Apakah akan Terulang pada Krisis Ekonomi Sekarang ?

Economic CrisisBerbagai kajian yang menelaah krisis keuangan Asia telah banyak dilakukan, dari berbagai sudut pandang pula. Secara umum terlihat suatu pola dan karakteristik yang berlaku sama di seluruh negara yang dilanda krisis. Namun, dalam hal kedalamannya dan jangka waktunya, Indonesia dapat dikatakan sangat unik. Sulit mencari pembandingnya, barangkali negara yang paling layak untuk dibandingkan waktu itu adalah Rusia, dan sekarang mungkin Argentina. Oleh karena itu, dalam uraian berikut kita akan mengkaji secara singkat mengapa krisis di Indonesia begitu parah, dan mengapa pemulihannya begitu lambat.

Sebagai introspeksi, harus kita akui bahwa krisis di Indonesia benar-benar tidak terduga datangnya, sama sekali tidak terprediksi sebelumnya. Seperti dikatakan oleh Furman dan Stiglitz (1998), bahwa di antara 34 negara bermasalah yang diambil sebagai percontoh (sample) penelitiannya, Indonesia adalah negara yang paling tidak diperkirakan akan terkena krisis bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya dalam percontoh, tersebut. Ketika Thailand mulai menunjukkan gejala krisis, orang umumnya percaya bahwa Indonesia tidak akan bernasib sama. Fundamental ekonomi Indonesia dipercaya cukup kuat untuk menahan kejut eksternal (external shock) akibat kejatuhan ekonomi Thailand.


Berikut ini 4 Penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998 :

1.   Yang pertama, stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi bagi “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri di bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut.

Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani (manageable). Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Hal ini mirip dengan yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis. Dalam banyak hal, boleh dikatakan bahwa negara telah menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Mengapa demikian? Karena kreditur asing tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka.
Daya tarik dari “dynamic economies’” ini telah menyebabkan net capital inflows atau arus modal masuk (yang meliputi hutang jangka panjang, penanaman modal asing, dan equity purchases) ke wilayah Asia Pasifik meningkat dari US$25 milyar pada tahun 1990 menjadi lebih dari US$110 milyar pada tahun 1996 (Greenspan 1997). Sayangnya, banyaknya modal yang masuk tersebut tidak cukup dimanfaatkan untuk sektor-sektor yang produktif, seperti pertanian atau industri, tetapi justru masuk ke pembiayaan konsumsi, pasar modal, dan khusus bagi Indonesia dan Thailand, ke sektor perumahan (real estate). Di sektor-sektor ini memang terjadi ledakan (boom) karena sebagian dipengaruhi oleh arus modal masuk tadi, tetapi sebaliknya kinerja ekspor yang selama ini menjadi andalan ekonomi
nasional justru mengalami perlambatan, akibat apresiasi nilai tukar yang terjadi, antara lain, karena derasnya arus modal yang masuk itu.

Selain itu, hutang swasta tersebut banyak yang tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi, tetapi lebih mengandalkan koneksi politik, dan seakan didukung oleh persepsi bahwa negara akan ikut menanggung biaya apabila kelak terjadi kegagalan. Lembaga keuangan membuat pinjaman atas dasar perhitungan aset yang telah “digelembungkan” yang pada gilirannya mendorong lagi terjadinya apresiasi lebih lanjut (Kelly and Olds 1999). Ini adalah akibat dari sistem yang sering disebut sebagai “crony capitalism”. Moral hazard dan penggelembungan aset tersebut, seperti dijelaskan oleh Krugman (1998), adalah suatu strategi “kalau untung aku yang ambil, kalau rugi bukan aku yang tanggung (heads I win tails somebody else loses)”. Di tengah pusaran (virtous circle) yang semakin hari makin membesar ini, lembaga keuangan meminjam US dollar, tetapi menyalurkan pinjamannya dalam kurs lokal (Radelet and Sachs 1998). Yang ikut memperburuk keadaan adalah batas waktu pinjaman (maturity) hutang swasta tersebut rata-rata makin pendek. Pada saat krisis terjadi, rata-rata batas waktu pinjaman sektor swasta adalah 18 bulan, dan menjelang Desember 1997 jumlah hutang yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar US$20,7 milyar (World Bank 1998).

2. Yang kedua, dan terkait erat dengan masalah di atas, adalah banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.


Ketika liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980-an, mekanisme pengendalian dan
pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan
. Yang lebih parah, hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi. Semua ini berarti, ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai “peredam kerusakan”, tetapi justru menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat.


3. Yang ketiga, sejalan dengan makin tidak jelasnya arah perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi pula.

Hill (1999) menulis bahwa banyaknya pihak yang memiliki vested interest dengan intrik-intrik politiknya yang menyebar ke mana-mana telah menghambat atau menghalangi gerak pemerintah, untuk mengambil tindakan tegas di tengah krisis. Jauh sebelum krisis terjadi, investor asing dan pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia selalu mengeluhkan kurangnya transparansi, dan lemahnya perlindungan maupun kepastian hukum. Persoalan ini sering dikaitkan dengan tingginya “biaya siluman” yang harus dikeluarkan bila orang melakukan kegiatan bisnis di sini. Anehnya, selama Indonesia menikmati economic boom persepsi negatif tersebut tidak terlalu menghambat ekonomi
Indonesia. Akan tetapi begitu krisis menghantam, maka segala kelemahan itu muncul menjadi penghalang bagi pemerintah untuk mampu mengendalikan krisis. Masalah ini pulalah yang mengurangi kemampuan kelembagaan pemerintah untuk bertindak cepat, adil, dan efektif. Akhirnya semua itu berkembang menjadi “krisis kepercayaan” yang ternyata menjadi penyebab paling utama dari segala masalah ekonomi yang dihadapi pada waktu itu. Akibat krisis kepercayaan itu, modal yang dibawa lari ke luar tidak kunjung kembali, apalagi modal baru.


4.  Yang keempat, perkembangan situasi politik telah makin menghangat akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri.


Faktor ini merupakan hal yang paling sulit diatasi. Kegagalan dalam mengembalikan stabilitas sosial-politik
telah mempersulit kinerja ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan secara mantap dan berkesinambungan.


Meskipun persoalan perbankan dan hutang swasta menjadi penyebab dari krisis ekonomi, namun, kedua faktor yang disebut terakhir di atas adalah penyebab lambatnya pemulihan krisis di Indonesia. Pemulihan ekonomi musykil, bahkan tidak mungkin dicapai, tanpa pulihnya kepercayaan pasar, dan kepercayaan pasar tidak mungkin pulih tanpa stabilitas politik dan adanya permerintahan yang terpercaya (credible).

SEMOGA KEDEPANNYA  INDONESIA TIDAK MENGALAMI KRISIS EKONOMI LAGI.

by: Devy Putra

About these ads

49 Tanggapan

  1. Usul…..satu lagi penyebab krisis….yaitu krisis “kemanusiaan”. Banyak kan yang katanya manusia tapi “kehewanannya” yang menonjol !!! Trims..salam kenal.

  2. nambah 1 lagi… hati-hati bisa – bisa di indonesia akan ada yang namanya krisis moral dan akhlak… sehingga semuannya akan sia-sia dan indonesia bisa lebih hancur dari pada sekarang… sekarang sudah timbul yang namanya krisis moral dan akhlak..

  3. Perlu perhatian…..mulai memanasnya situasi politik saat ini ditambah semakin dekatnya pesta pemilihan caleg, ini tentu sangat berdampak buruk terhadap situasi krisis global seperti saat ini

  4. Sebenarnya saya ga’ paham tentang ekonomi, tp kayknya kita harus berusaha bisa mandiri, salah satunya gerakan dimana PNS wajib memakai sepatu buatan lokal, tp ya…kita tau adanya gerakan itu karena emang ada yg mau diuntungkan, tp minimal hal ini diharapkan menjalar keareal lain sehingga bukan sepatu lokal aja tapi beras, pakaian, dll (eit….saya bukan nyerempetin ke iklannya Prabowo lho :))

  5. Bahasannya bagus sekali ini, sangat membantu saya dalam mengerjakan research, blog ini sangat membantu saya dalam mencari jawaban dan informasi, serta literaturnya di sebutkan.

    Bagus sekali!!! Bravo!
    Terima kasih !

  6. Thanks buat tambahan ilmunya…
    btw jawaban dr tugas yg dikasih dosen saya ada di situ…
    ^_^

  7. WAW…

    lam knal y

  8. Nice article..

    Bole nih suatu saat nanti kita tulis bareng..:)

  9. tengs peerku rampung

  10. peer ku juga

  11. ehmmm ityuuuu,,… dari krisis yang ada kebijakan pemerintah apa ja?? ada tugas nich tolong di bantu!!! ALL

  12. Ttrimakasih atas tuliannya. tulisan anda sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas, tapi saya sarankan untuk menulis lebih detail lagi, soalnya masih banyak tanda tanya yang muncul di benak saya saat membaca tulisan anda.

  13. thx atas tulisan ini…. cukup lengkap dan jelas…

  14. w bingung banget soal w ga begitu paham soal ekonomi

  15. tank tas pengertianya

  16. tauuuu akh,,,, ribet nyaaa krisis kemaren itu???? tapi q dpt seditk pencerahannn. thankzzzz atas infonya

  17. bener banget…
    kalo ada yang lebih detail dalam pembahasan tambah good

  18. perekonomian adalah suatu tiang untuk menjadi negara maju. namun mulai dari tahun 1997 sampai sekarang sifat maupun sikap penguasa tidak berubah.

  19. bagaimana c cara’a agar tdk da’a krisis ekonomi lagi …
    bagaimana pemerintah melihat ato menindak lajuti krisis ekonomi skarang ijni ??

    trima kasih

  20. Anggota DPR di singkirkan dulu

  21. tolong itahu nama penulis artikel ini. Saya perlu cantumkan di bibliography laporan saya..

  22. @Michael : Penulisnya “Devy Putra”, sebagai pemerhati bidang ekonomi dan perencanaan kota. Dan juga tolong sertanya url nya ya. Thx

  23. Terima kasih banyak..

  24. wah terima kasih atas infonya,,
    membantu saya yang mau test ^^

  25. keren

  26. Makasih bwt tambahan ilmu barunya…..
    Boleh request kan ya???
    Tolong donk buat makalah tentang permasalahan ekonomi di indonesia sejak tahun 1998 s/d 2008………
    sekalian sama kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk menyelesaikan masalah-masalah itu ya!(Jalan Keluarnya)
    Thanks be4….
    N salam kenal!!!!!!!!!!

  27. @ Siska : sama-sama, terima kasih anda telah berkunjung kesini.

    Iya jika ada waktu saya akan membahas juga mengenai permasalahan ekonomi di indonesia sejak tahun 1998 s/d 2008 dan kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk menyelesaikan masalah-masalah itu.

  28. tolong kasih tau langkah apa yang harus dilakukan agar krisis tidak terulang lagi…
    thnx….

  29. tolong kasih tau langkah apa yg harus d ambil agar krisis ekonomi tidak TERULANG LAGI..
    THNX…

  30. Good idea. Mohon izin untuk dijadikan referensi. Maturnuwun

  31. mau ty nich, apa saja yang bisa membuat krisis ekonomi terjadi?…….. ada tugas dr tutor. tlg bantu ya…
    thaks ya sebelumnya.

  32. ini blog sgt membntu sya dlm tgs kuliah sya,thx.

  33. makasih infonya bro,..tolong bantu lagi dong..gimana cara kita kita ( bukan pemerintah )
    mengatasi inflasi ?

  34. menurut saya, penyebabnya masih kurang satu lagi yaitu krisis keuangan asia tahun 1997

  35. TQ.bisa nambah wawasan aku.

  36. terimakasih infonya

  37. makasih infonya membantu

  38. Masalah krisis bisa diselesaikan dan gak bakal terjadi lagi gampang aja sih, satukan saja semua jenis mata uang dari seluruh dunia menjadi satu jenis mata uang, beres…res….res…..

  39. Apa masalah-masalah keuangan yang terjadi di indonesia saat ini..?

  40. [...]   BAB I PENDAHULUAN …Penegakkan peraturan inilah yang pada akhirnya mencakup segala aspek kehidupan ekonomi untuk menjamin berjalannya mekanisme pasar secara baik. DAFTAR PUSTAKA  Syamsul Hadi, dkk.2004.Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF.Jakarta: Granit. http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=97:lingkaran-krisis-ekonomi-indonesia&catid=34:mkp&Itemid=62 http://putracenter.net/2009/02/10/4-penyebab-krisis-ekonomi-indonesia-tahun-1997-1998-apakah-akan-te… [...]

  41. [...] http://putracenter.net/2009/02/10/4-penyebab-krisis-ekonomi-indonesia-tahun-1997-1998-apakah-akan-te… [...]

  42. sangat membantu tugas saya. terima kasih

  43. [...] http://putracenter.net/2009/02/10/4-penyebab-krisis-ekonomi-indonesia-tahun-1997-1998-apakah-akan-te… [...]

  44. Makasih ya Admin, sedikit pencerahan penambah referensi tugas kuliag yang bikin njelimet ;D Ijin copas make adress admin. Thanks…thanks…

  45. […] putracenter.net […]

  46. thanks bro

  47. ijin copas dan share Gan

  48. Semoga tidak terulang lagi. kalender 2014 sama dengan 1997. Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mandiri dan tidak tergantung dengan bantuan luar negeri. Masalahnya adalah manajemen pemerintah dan ekonomi kerakyatan.

  49. […] putracenter.net […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 369 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: